Novel | Melodi Numerik oleh Mutiara Laily (Bab 3-4)

 


Bab
III

Menanti Rindu Menemui Sunyi


           Jam kepulangan tiba, beberapa siswa terlihat berlari-lari kecil sambil tertawa-tawa riang. Suasana terasa riuh rendah dengan suara anak-anak yang berbicara dan tertawa. Karl bersama Musa berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil motor. Suasana langit siang menjelang sore itu mendung, rasanya sebentar lagi akan turun hujan.

Karl dan Musa melewati arah pulang yang berbeda, mereka mulai berpisah di persimpangan jalan. Karl tidak langsung pulang ke rumahnya, namun ia harus pergi menuju sebuah tempat untuk kembali menuntut ilmu.

“Bye, Karl. Jangan lupa besok ada tugas fisika,” sapa Musa. “Kamu kerjakan, nanti saya lihat punyamu saja haha.” Karl tertawa meledek. Rasanya tidak mungkin jika Karl tidak mengerjakan tugasnya, tentu ia akan mengerjakannya nanti di tempat les bersama guru pembimbingnya.

 

***

 

Suasana semakin gelap dan angin berdesir cukup kuat. Chandra yang saat itu masih mengobrol bersama teman-temannya di tempat parkir mulai bergegas pulang. Sama halnya seperti Karl, ia tidak langsung pulang ke rumah, melainkan ada hal lain yang harus ia kerjakan.

Benar saja, hujan mulai turun di pertengahan jalan. Karl tidak membawa jas hujan, ia memilih untuk tetap memandu motornya menuju tempat les karena lokasinya sudah lumayan dekat. Setelah sampai, ia melepaskan crewneck yang ia kenakan dan menggantungnya di gantungan yang seharusnya tempat menaruh tas. Syukur saja basahnya tidak sampai seragamnya, hanya bagian luar saja.

Melihat kedatangan Karl, guru lesnya pun menyuruhnya untuk segera masuk, “Nak, ayo cepat masuk, pelajaran akan segera dimulai.” Mendengar itu, Karl yang sedang menggantung pakaiannya menjawab, “Sebentar bu, saya mau mengeringkan crewneck saya, taruh di sini gapapa kan bu?” Gurunya mengiyakan hal itu dan Karl segera masuk ke dalam kelas.

Pelajaran pun dimulai, dengan mata pelajaran fisika yaitu bab “Medan Magnet”.

“Jika tangan kanan dibuka dengan ibu jari menunjukkan arah arus I dan keempat jari lain yang dirapatkan menunjukkan arah medan magnet B, arah keluar dari telapak tangan menunjukkan arah Gaya Lorentz.” Cuplikan ketika pelajaran sedang berlangsung. Karl menyimak pelajaran dengan baik, dan tidak lupa ia mencatat setiap poin dari materi yang disampaikan. Suasana tempat les jauh lebih tenang dari riuhnya kelas XII Newton, terlebih lagi memiliki teman sebangku seorang Prasanta Chandra.

Waktu menunjukan pukul delapan malam, teman-teman di tempat les sudah menuju rumahnya masing-masing, sementara Karl masih berada di tempat les. Karl berbicara pada gurunya bahwa ia memiliki tugas fisika untuk besok dan meminta untuk dibimbing, gurunya bersedia untuk membantunya.

Karena muridnya dilatih untuk bisa menyelesaikan pertanyaan yang sulit, gurunya itu hanya memantau Karl mengerjakan, bukan membantu mengerjakan untuknya. Karl mulai mengerjakan dan ia telah menyelesaikan satu dari lima soal, ia pun meminta gurunya memeriksa. Hasilnya, ada yang keliru dari rumus yang digunakan Karl yang membuat jawabannya salah dari awal, “Nak, ini seharusnya pakai rumus rangkaian seri bukan paralel, ayo diulang lagi.” Karl mengerjakan ulang dan meminta gurunya untuk memeriksa lagi, tak terasa semua nomer sudah terisi dengan benar.

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Karl akan pulang dan pamit pada gurunya, ia meraih crewnecknya yang sudah lumayan kering. Suasana dingin dan sepi di sepanjang jalan terasa damai sekali, terlintas pikiran tentang apa yang akan di makan malam ini, dan pikiran-pikiran lainnya. Melewati bangunan-bangunan serta toko yang sudah tutup cukup menambah kesan menyeramkan, Karl mempercepat perjalanannya, hingga sampailah di rumah.

 

***


Bayang-bayang akan disambut ketika sampai di rumah ternyata sungguh menyakitkan, kenyataan yang ada hanyalah ruangan kosong bagai tak berpenghuni. Hanya disambut oleh security yang membukakan pagar,

“Malam, Tuan. Sudah malam begini baru pulang, dari mana saja?”

“Malam, Pak. Hari ini saya mengambil dua kelas sekaligus. Ngomong-ngomong, apakah adik saya sudah tidur pak?”

“Sudah sepertinya, saya tidak melihatnya dari tadi. Ketika sampai di dalam nanti langsung bersih-bersih ya, makan malam sudah disediakan di meja,”

“Baik pak, terima kasih.” Karl memakirkan motornya dan ia langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Ketika ia melewati sebuah kamar, terlihat adiknya sudah tertidur lelap, syukur ucapnya. Ia akan segera mandi dan juga akan menyantap makan malam.

Berada di ruang makan yang cukup luas, rasanya hanya semakin menambah kesan rasa kesepian. Bayang-bayang akan ricuhnya ketika makan malam keluarga membuatnya semakin kesepian. Ruangan ini hanya ramai jika Papanya sedang mengundang makan malam seorang tokoh penting yang membuat banyak wartawan hadir.

Lelah yang dirasakan malam itu membuatnya menitikkan air matanya, seraya seluruh tubuhnya gemetar karena isak tangisnya. Perasaan rindu membuatnya menangis tersedu-sedu,

“Saya kangen suasana di panti.”


credit pearlail.blog


Bab
IV

Bunga Kebaikan di Tanah Kebencian


        Waktu menunjukkan pukul empat pagi, alarm otomatis yang ada dalam tubuh Karl membuatnya bangun dari mimpinya. Hari masih gelap, matahari belum menampakkan dirinya. Hawa pagi itu cukup dingin, membuat orang malas untuk bangun dari tidurnya. Seseorang pernah berkata,

 

Beberapa orang memimpikan kesuksesan, sementara yang lain bangun setiap pagi dan mewujudkannya.”

 

Karl bangun dari tidurnya, kemudian ia merapihkan tempat tidur dan menyempatkan untuk membaca buku. Ketika waktu sudah menunjukan pukul lima pagi, ia pergi keluar untuk berolahraga, pagi itu ia memilih untuk lari pagi di halaman rumahnya. Hawa dingin saat fajar mulai menyelimuti tubuh, menusuk jiwa, angin sepoi-sepoi fajar memiliki rahasia untuk memberitahu jangan kembali tidur.

“Kak…” seru adiknya dari jendela kamarnya. Panggilan dari adiknya itu menandakan olahraga pagi itu selesai, ia langsung pergi menghampiri adiknya. Karl pun pergi mandi, setelah selesai ia langsung menyantap sarapan yang sudah disediakan oleh para pekerja di rumah Karl.

Ketika waktu menunjukkan pukul setengah tujuh, Karl segera pergi berangkat ke sekolah dengan motornya.

credit pearlail.blog

Suasana sekolah pada pagi itu masih sepi, belum ramai siswa maupun siswi yang datang. Karl memakirkan motornya dan berjalan menuju ruang kelas, kemudian hal yang sama terjadi lagi pagi itu, sebuah motor melaju kencang dan hampir menabrak Karl yang sedang membenarkan tali sepatunya, ia reflek menghindar,

“Hei! apakah hal ini harus terjadi di setiap pagi?!” seru Karl.

“Apa masalahmu?” jawab Chandra sembari melepaskan helm nya.

“Masih belum sadar apa masalahnya?!!” Karl menghampirinya.

“Udah sarapan belum? Marah-marah mulu, makan dulu gih, kekurangan gizi gejala awalnya memang gitu,” jawab Chandra dengan wajah meledek sembari menunjuk ke arah gerobak bubur ayam. Menghindar dari serangan botol minum Karl, Chandra langsung berlari menghampiri penjual bubur ayam itu dan ingin menyantap sarapan di sana. Tak lama, Laura datang menyusulnya dan bergabung untuk sarapan.

Karl sampai di kelas lebih dulu, dia orang pertama yang datang. Seperti kebiasaannya, setiap pagi ia akan mempelajari materi yang akan dibahas hari itu, juga mencatat pertanyaan-pertanyaan untuk ditanyakan saat jam pelajaran.

 

***

                                         

Bel masuk mulai berdering, siswa-siswi mulai berlarian masuk kedalam kelasnya masing-masing, namun ada juga yang masih berada di luar kelas, yang dengan santai nya masih sarapan bubur ayam. Pelajaran pertama pagi itu adalah matematika peminatan oleh Bu Rifdah, dengan materi yang akan dibahas adalah “Limit Fungsi Trigonometri”. Sang guru pun masuk ke dalam kelas,

“Selamat pagi teman-teman semuanya,”

“Pagi Bu.”

“Pada pelajaran pagi ini, ibu akan mulai dengan absensi,” Bu Rifdah mulai memanggil nama-nama dari absen awal, ketika absen sudah sampai pada nama Laura, ternyata dia belum hadir di kelas. Seorang anak di kelas menyahuti bahwa ia melihat Laura dan Chandra masih di luar, sedang sarapan bubur ayam. Absen pun berlanjut hingga sampailah pada nama terakhir. Kemudian, terdengar suara ketukan pintu,

“Maaf bu, kami telat,” Chandra dan Laura baru sampai di kelas, seketika saat itu mereka menjadi pusat perhatian.

“Baik, silahkan langsung duduk,” mereka tidak dihukum karena mereka tidak datang terlalu telat. Mereka pun duduk dan mulai menyimak pelajaran yang dibahas. Karl yang masih kesal karena kejadian pagi tadi, akhirnya ia membalasnya detik itu juga. Dia mengepalkan tinjunya dan memukul dengan keras bagian perut Chandra, pukulan keras itu terdengar sampai ke ujung ruangan, hingga sang guru menyadari itu,

“Hei, ada apa kok ribut-ribut,”

“Tidak bu, hanya suara dari buku saya yang terjatuh ke lantai,” Karl membungkam mulut Chandra yang mencoba mengadu pada sang guru.

“Sakit, woy!” lirih Chandra. “Awas saja, nanti saya akan balas lebih kuat dari itu.”

“Coba saja,” tantang Karl.

“Itu yang masih ribut-ribut mending keluar saja, kalian mengganggu konsentrasi pembelajaran,” ucap sang guru yang mulai terganggu dengan keributan dua anak ini. Karl pun kembali melanjutkan catatan di papan tulis, begitupun Chandra yang juga ikut menulis.

Karena di tingkat kelas sebelumnya sudah pernah dibahas terkait limit fungsi, namun pada kali ini yang dibahas adalah limit fungsi trigonometri. Bu Rifdah mengulang kembali materi di kelas sebelumnya agar tidak ada yang lupa.

Singapore Flyer yang berada di Singapura merupakan wahana kincir angin tertinggi nomor dua di dunia. Wahana ini mempunyai ketinggian 165 meter dari permukaan tanah dan panjang jari-jari 75 meter. Untuk naik wahana ini, diharuskan berada di sebuah terminal yang terletak di gedung lantai tiga.

Ketinggian kapsul Singapore Flyer dapat ditentukan menggunakan persamaan y = 15+ 75 cos 9t dengan t (menit) adalah waktu ketika wahana mulai berputar dari terminal (dasar wahana).

Posisi ketinggian kapsul penumpang Singapore Flyer dapat dimodelkan ke bentuk persamaan trigonometri y = 15+ 75 cos 9t dengan t (menit) adalah waktu ketika wahana mulai berputar dari dasar. Lokasi ketinggian seorang penumpang setelah wahana berputar selamat t menit dapat ditentukan menggunakan limit fungsi trigonometri. 

Tak terasa pelajaran pertama pun usai.

Sekarang adalah waktu istirahat, Karl dan Musa berjalan ke taman, mereka duduk di bawah pohon rindang dan menikmati makanannya dengan tenang. Beberapa teman yang lain juga ikut bergabung, mereka duduk bersama dan bercerita tentang banyak hal.

Chandra dan Laura akan pergi ke kantin, namun ketika baru sampai di taman sekolah, Chandra meminta Laura untuk duluan ke kantin karena dia harus kembali ke kelas. Setelah selesai dengan urusannya, ia langsung menyusul Laura yang sudah menunggunya di kantin.

 

***

 

Bel masuk pun berbunyi, semua orang mulai kembali ke dalam kelas untuk memulai pelajaran setelahnya. Pelajaran kelas XII Newton kali ini adalah fisika oleh Pak Nasr. Sang guru pun masuk ke dalam kelas,

“Pagi menjelang siang teman-teman semua. Apakah minggu lalu ada tugas yang Bapak berikan? Saya lupa kelas mana yang saya beri tugas,” tanya sang guru. Anak-anak yang belum mengerjakan tugas itu saling menatap dan menggelengkan kepalanya. “Jangan bilang padanya kalau kelas ini yang diberi tugas,” bisik seorang anak.

“Ada pak, minggu lalu bapak memberi kita lima soal untuk dikerjakan,” jawab Karl yang membuat semua orang menatap nya. Ada yang pro dan kontra dengan itu, tentu yang pro adalah orang-orang yang sudah meluangkan waktunya untuk mengerjakan tugasnya, dan yang kontra adalah orang yang belum mengerjakan.

“Baik, terima kasih Karl sudah diingatkan. Sekarang kumpulkan tugasnya di meja. Dan yang belum mengerjakan, silahkan kerjakan di depan kelas, disamping meja guru. Sambil bapak memeriksa tugas nya, kalian bebas mau ngapain aja di dalam kelas.” Karl membuka tas nya dan hendak mengambil buku nya, dia menggaruk kepalanya dengan bingung dan menatap kosong ke depan. Bukunya tidak ada di dalam tas. Ia mengeluarkan semua isi tasnya dan tidak ditemukan buku fisika di dalamnya, ia sangat yakin bukunya tidak mungkin tertinggal, ia sudah memastikannya terbawa sebelum berangkat sekolah.

“Pak, buku saya tertinggal,” ucap Karl pada gurunya. Tidak ada kompromisasi saat itu meskipun ia sudah mengerjakannya, Karl juga harus mengerjakannya di depan. Kemudian, terdengarlah bisikan orang-orang di belakang yang heran dengan kejadian itu, beberapa ada yang menertawakannya juga. Sebagai seorang teman, Musa membela Karl di hadapan teman-temannya kala itu “Manusia bisa saja lupa, tidak ada yang salah dengan itu.”

Chandra yang sudah selesai dengan tugasnya memilih untuk tidur, tak tertinggal momen ia meledek dan menertawai Karl karena itu. Di sisi lain, ia menyadari Laura sedang menatapnya dengan tatapan kecurigaan,

“Ada apa dengan tatapanmu itu. Berhentilah melakukannya.”

Karena tugas itu baru saja dikerjakan malam tadi, tentu Karl masih ingat dengan jawabannya, ia akhirnya mengerjakan di selembar kertas. Dan ia berhasil menyelesaikannya, dan sudah kembali ke tempat duduknya. Ia masih bertanya-tanya dimana bukunya berada, apakah tertinggal di tempat les? Atau di atas meja belajarnya dirumah?

Pelajaran fisika pun usai, bel pergantian mata pelajaran selanjutnya pun berbunyi, “Baik, saya cukupkan pelajaran kali ini, tolong bangunkan teman-teman yang tertidur itu. Terima kasih.”

Selanjutnya pelajaran terakhir hari ini adalah pelajaran bahasa inggris. Kelas berjalan dengan baik, hingga akhirnya waktu kepulangan tiba.

 

***

 

Siang menjelang sore kala itu sepertinya akan turun hujan lagi, langit sudah hampir gelap dan cukup berawan. Karl dan Musa berlari ke tempat parkiran sebelum hujan akan turun. Karl sedikit menaikkan kecepatan motornya agar tidak kehujanan ketika menuju tempat lesnya.

Chandra dan Laura pun bergegas menuju tempat parkir, Laura mulai memperhatikan sekeliling, dan ketika ia merasa situasinya aman, tanpa aba-aba ia pun langsung menjewer telinga Chandra, “Hei! Aku tahu kamu yang melakukan itu kan? Ketika kamu meminta untuk kembali ke kelas saat istirahat tadi, itu terdengar mencurigakan.”

“Ya, itu memang aku. Salah dia mengapa berani cari masalah denganku, bukunya juga hanya kutaruh di rak buku belakang kelas,” ucap Chandra, ia meminta Laura untuk melepaskan tangannya.

“Kamu lupa? Bapaknya itu anggota dewan, bisa habis kamu kalau bapaknya tahu soal ini.”

“Coba saja. Nanti aku juga akan bilang ke ayah, bisa-bisa mereka akan dihantui setiap hari.”

“Ayo cepat pulang, selain langit yang semakin gelap, perkataanmu juga semakin gelap,” seru Laura sembari menarik Chandra agar cepat sampai di tempat parkir.

Mereka pun sampai di tempat parkir dan bergegas untuk pulang.

 

" Mengingatkan tentang tugas bukanlah tindakan melawan, tetapi tindakan peduli. Ketika kamu mengingatkan tentang tugas, itu menunjukkan ketulusanmu untuk saling membantu dan bersama-sama berkembang. Meski ada yang tidak mengerti, teruslah menjadi pilar kebaikan. Jangan berhenti memberikan kontribusi positif, karena itu nilai yang tak ternilai."





Pearl Lail

Suka menulis, ingin menjadi astronot.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama